Vaksin dan imunisasi adalah konspirasi besar besaran dari keluarga Yahudi ternama di Amrik, yaitu Rockefeller, Rockefeller itu mendanai besar²an proyek imunisasi maupun vaksin ini. Dia adalah salah satu pendiri WHO plus CIA!
Beberapa ilmuwan Amerika bahkan ilmuwan di penjuru dunia konon tahu seluk beluk konspirasi vaksin ini, dan berikut team situslakalaka mengutip sebagian beberapa pendapat para ilmuwan mengenai vaksinasi:
“Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.” (Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris)
“Ketika vaksin dinyatakan aman, keamanannya adalah istilah relatif yang tidak dapat diartikan secara umum”. (dr. Harris Coulter, pakar vaksin internasional)
“Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.” (Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962)
“Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.” (Dr. William Hay, dalam buku “Immunisation: The Reality behind the Myth”)
Yang paling membuat merinding adalah pernyataan terakhir dari William Hay, secara logis penjelasannya sangat sangat masuk akal, lalu kenapa sedari dulu vaksin dan imunisasi seperti sudah menjadi kebudayaan kita semua? Menurut sumber yang kami baca, vaksin yang diproduksi dan dikirim ke seluruh dunia khususnya negara muslim, negara dunia ketiga bahkan negara berkembang adalah suatu cara untuk mengacaukan sifat dan watak generasi penerus di negara tersebut, sangat gila bukan! jika hal tersebut memang benar, sudah dari dulu darah kita sebagai orang Indonesia terkontaminasi racun berbentuk vaksin ini!
Vaksin sendiri apakah kita pernah tahu darimana asalnya? Maen suntik dan berkembang saja sedemikian rupa di tubuh kita selama bertahun tahun, konon katanya ada DNA orang asing yang mengalir di darah kita, dan bisa anda bayangkan jika anda baru punya anak yang masih lucu dan imut imutnya serta masih suci dari penyakit disuntikan vaksin yang ternyata DNA entah siapa, dan mulai merusak DNA asli anak anda?!
Vaksin sendiri diketahui mengandung asam amino dari babi!
Penjelasan ilmiahnya, asam amino babi itu relatif sama bahkan hanya berbeda 1 point secara matematis dan ilmiah tentunya jika dibandingkan dengan asam amino manusia, hal tersebut menyebabkan kita sama saja dengan kanibal bukan?! Lalu jika sudah masuk itu asam amino babi, otomatis masuk juga semua hal yang ada di dalam babi, for example: sifat buruk babi (??), penyakit cacing pita babi dan masih banyak lagi! Dan ternyata bencana akibat vaksin ini banyak loh di belahan dunia, hanya saja tidak pernah dipublikasikan! Tanya kenapa? Contohnya antara lain:
Pada 1986 ada 1300 kasus pertusis di Kansas dan 90% penderita adalah anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi ini sebelumnya. Kegagalan sejenis juga terjadi di Nova Scotia di mana pertusis telah muncul sekalipun telah dilakukan vaksinasi universal.
Jerman mewajibkan vaksinasi tahun 1939. Jumlah kasus dipteri naik menjadi 150.000 kasus, di mana pada tahun yang sama, Norwegia yang tidak melakukan vaksinasi, kasus dipterinya hanya sebanyak 50 kasus.
Penularan polio dalam skala besar, menyerang anak-anak di Nigeria Utara berpenduduk muslim. Hal itu terjadi setelah diberikan vaksinasi polio, sumbangan AS untuk penduduk muslim. Beberapa pemimpin Islam lokal menuduh Pemerintah Federal Nigeria menjadi bagian dari pelaksanaan rencana Amerika untuk menghabiskan orang-orang Muslim dengan menggunakan vaksin.
Setiap program vaksin dari WHO di laksanakan di Afrika dan Negara-negara dunia ketiga lainnya, hampir selalu terdapat penjangkitan penyakit-penyakit berbahaya di lokasi program vaksin dilakukan. Virus HIV penyebab Aids di perkenalkan lewat program WHO melalui komunitas homoseksual melalui vaksin hepatitis dan masuk ke Afrika tengah melalui vaksin cacar.
Desember 2002, Menteri Kesehatan Amerika, Tommy G. Thompson menyatakan, tidak merencanakan memberi suntikan vaksin cacar. Dia juga merekomendasikan kepada anggota kabinet lainnya untuk tidak meminta pelaksaanaan vaksin itu. Sejak vaksinasi massal diterapkan pada jutaan bayi, banyak dilaporkan berbagai gangguan serius pada otak, jantung, sistem metabolisme, dan gangguan lain mulai mengisi halaman-halaman jurnal kesehatan.
Dan masih banyak lagi kasus yang bermasalah karena vaksin. Dan konspirasi ini bisa benar adanya karena data datanya bisa dibilang cukup akurat, logikanya tubuh manusia mempunyai sistem kekebalan sendiri bukan? Bukan berarti dengan disuntikan suatu obat dia malah akan menjadi makin kebal terhadap penyakit, masalahnya penyakit apa? Justru penyakit datang setelah disuntik!
Kunjungi : http://sang-gelombang.blogspot.com
About Me
- sanggelombang
Selasa, 16 Agustus 2011
IMUNISASI; TIPU MUSLIHAT YAHUDI MENGHANCURKAN GENERASI MUSLIM DARI DINI
Diposting oleh
sanggelombang
di
17.29
0
komentar
Label: artikel
Minggu, 14 Juni 2009
ANA UHIBBUKUM FILLAH….
Cinta adalah suara hati, karena cinta adalah sesuatu yang dirasakan dalam hati. Oleh karena itu sifatnya abesterak yang tidak bisa dikongkrikan. Cinta datang dan pergi tampa direncanakan. Sederhananya begitulah hakekat dan tabiat cinta.
Akan tetapi bagi muslim atau muslimah, cinta adalah anugrah Allah SWT, karena Cinat adalah bagian dari rizki yang tersembunyi, kerahasiaannya dalam genggaman Allah azza wajalla. Kedekatan cinta di hati kita adalah berbanding lurus dengan kedekatan Cinta kita kepada Allah SWT. Karena itu secara integgral apa yang dikatakan Maria dan fahri dalam felem ayat-ayat cinta adalah benar, “cinta turun dari langit terhunjam dahsyat dalam hati. Akan tetapi ada juga cinta yang mengakar lebih dulu dalam hati yag kemudian dipasrahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT.
Saya punya cerita fonomenal dengan sifat cinta yang kedua diatas,dan terpanggil untuk menceritakannya. cerita ini kisah cinta seorang tokoh masyarakat pulau sapeken, yang dicerikannya sendiri waktu itu di Puskesmas hingga larut malam. Tokoh masyarakat itu pak Gusni namanya, beliau bercerita saat saya dan temen bercerita tentang ilmu-ilmu pelet pemikat perempuan, dikampung ilmu pellet begini bukan sesuatu yang asing, pak Gusni kemudian menengahi pembbicaraan kita:
Pak Gusni : Nak, watturuku ngaji ka Aji ma Sattik nu, sampe ningkelle, Wa Gus masi beke Aji Ma sattik nu sambel guguru nimbau lelepe, bidok sampe nimbau kappal. Gai di sasanne Wa Gus nagu dampe ka Ma Sattiknu tapi talau namasampe nasaba Wa Gus sanggah murid sosohoan Wa Aji Ma Sattiknu. Setemu elau kasangan, minggu kabulan, bulan ka taun, dampe ka Ma Sattil nu iru kapela ngurrangi ma atai, ellau guguru nimbau sangan ngaji pitue Alle ta’ale ka Aji Ma Sattik Marumane, battiru tiat ellau sampe tabahas ka pitue All eta’ale madialan korahan, artine “te tatoho-tatohokan malaku ka Aku, nyok Alle Ta’ale, pasti na bunanku mammalakudi”. Wa Gus darue ditobos beke boe tube ma dia elleu makale pitue Alle ta’ale iru, kesek beke yakin dadi dakau ma atai Wa Gus nu Nak. Sajak iru madialan sujud-sujut Wa Gus malaku ka Alle ta’ale,
“papu malaku poppor ku ma bundahante, te anu nia ma ataiku itu sala mabundahante. tapi palakuku kakite, te dende nia ma ataiku itu dalleku ridhoiteku dadi ellene, ridhoite duye dadi endeku, palakukuye sebagai ruzkiku tekke makite.amienn..
Ellau sangan Wa Gus malaku ka Alle ta’ale, maluahan pangatonan Ma Sattik, Aji beke keluargane memon. Sementare dampe ka Ma sattik ma atai Wa Gus kapela ngurrangi, suatu hari nia ningkelle ngalaku Ma Sattik, tapi Ma Satik kitok, tenia aha adak ka Ma Sattik Ma Sattik kitok, te Ma Sattik adak lelle iru kito, battiru seterusne, tenia aha ngalaku. sampe Wa Aji baun “saine itu kau ellenu na, mun battiru terus Sattik, gai lagi iru kau na elle, adak dipasiala ka si Gus neko Sattik”. Wattu iru ma buli Ruma sambel nimbau Wa Gus takudat. Sambel nyebut amien.. amien…dalam-dalam.
Singkatne, akhirne Ma Sattik nu dipasiala beke Wa Gus dengan Cinta nasaba ternyate Ma Sattik nu diam-diam simpati ka Wa Gus.
Dadi anak-anak ku memon ilmu dende kamenah bagal adalah Do’a tulus ka Alle ta’ale gania kettune. Tulisnu memon surat Cintanu pasampenu ka Alle ta’ale madialan sujut-sujut khusyu’nu.
Cerita fonomenal diatas menggambarkan, bahwa Cinta mengakar lebih dahulu dihati kemudian dipasrahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT. Terlepas denagan benar dan tidaknya, boleh atau tidak, ada banyak cerita fonomenal tenteng cinta, seperti yang di abadikan syeh Ibnu Qayyim Azzauzy dalam kitabnya Raudhah al-muhibbin (taman orang jatuh cinta dan memendam rindu).
Cinta adalah emosi paling kuat, karena itu juga harus ditaklukkan dengan cinta. Yaitu Cintanya Allah SWT, bila tidak, maka tampa sadar cinta akan menyeret kita kelembah nista, maka renungkanlah kisah cinta Qais dan Laila, Romeo dan Juliet, Zainuddin dan Hayati dalam romansa Cinta tenggelamnya kapal fanderwich, oleh buya Hamka.
Cinta sebuah keniscayaan hati, karena bagi muslim atau muslimah yang baik Cinta adalah anugrah Allah SWT kepada setiap hambanya, maka alasan menolak dan menerimanya adalah berpulang kepada isyarat-isyarat Allah SWT yang tertuang dalam Al-quran dan Hadits. Tidak perlu riwa riwi bolak balik mencari alasan emosionil untuk menerima atau menolaknya, kenapa saya harus mencintainya, dll. Cukuplah seperti apa yang dikatakan oleh Syeh Sofyan al-uyainah ulama fiqh dan ahli hadits, salah satu gurunya Imam Syafi’I.
“Man ahabballah ahabba man ahabballah”
siapa yang mencintai Allah pasti akan mencintai orang mencintai Allah
oleh sebab itu selama oring itu mencintai Allah maka tidak ada alasan menolak cinta laki-laki atau perempuan itu. Karena sesungguhnya sebagai muslaim sejati akan menganggap bahwa cinta kepada selain Allah adalah refleksi dari kecintaannya kepada Allah SWT.
Kemudian Syeh Sofyan Al-Uyainah kembali berkata;
“Man ahabballah ahabba man ahabballah wa ahabba ma ahabbahullah”
Siapa yang mencintai Allah maka dia akan mencintai orang yang mencintai Allah dan akan mencintai apa-apa yang dicintai oleh Allah SWT.
Kemudian dalam salah satu sabda Nabi SAW, tentang keniscayaan-keniscaya cinta, adalah:
Min lawazimil mahabbah;
• ayyakhtara kalama habibihi ‘ala kalama gairihi,
• ayyakhtara mujalasata habibihi ‘ala mujalasata gairihi,
• ayyakhtara ridho habibihi ‘ala ridho gairihi.
Diantara keniscaan-keniscayaan cinta adalah adalah;
• memilih perkataan kekasihnya dari pada perkataan selain kekasihnya
• memilih majlis kakesihnya dari pada majlis selain kekasihnya
• memilih ridho kekasihnya daripada ridho selain kekesihnya.
Seperti itulah secara sederhana hakikat cinta, ketika mencintai dan dicintai dalam pandangan islam, agama yang kita yakini dan kita cintai ini. Maka orang yang menjadikan Allah sebagai tambatan hatinya, pasti mengikuti konsep cinta , yang di konsep oleh Syeh Sofyan Al-Uyainah dan keniscayaan cinta dalam sabda Nabi SAW diatas.
Cinta tidak akan pernah mati dan tidak akan pernah habis di ulas, karena Cinta senyawa dengan rasa, dan rasa senyawa dengan kehidupan. Selama ada kehidupan selama itu ada Cita. Bahkan Cinta melampawi kehidupan, ketika Cinta dalam bingkai ke ta’atan yang membuahkan mawaddah wa rahmah maka Cinta akan melanggeng hingga ke taman Syurgawi. Maka untuk semua itu anapun mengatakan kapada antum, ana uhibbukum fillah.
>>Akhukum
03418617145 / 085230143678.
Diposting oleh
sanggelombang
di
07.36
0
komentar
Label: artikel
PRAKMATISME; MENYELAM SAMBIL MINUM AIR
El-hezhna
“Sebuah renungan antisipatif terhadap dunia dengan segala isinya yang menggelayuti jiwa, dalam satu tindakan seribu pemikiran, mengubur kesamaran sebelum nyata, meskipun baunya akan tercium jua”
Pada perinsipnya manusia terbangun atas duan unsur yang mendasari segala usaha dan tindak tanduknya, yaitu; nurani dan nafsu. Secara esensial Allah SWT menginformasikan dalam Al-quran, “fa al hamaha fujuraha wa taqwa” artinya: allah SWT membekali manusia dengan kecendrungan kapada keburukan dan kebaikan. Unsure domonan dari kedua yang dibekali oleh Allah SWT itulah nantinya yang akan mempengaruhi sepak terjang dan warna kehidupan sesorang dari segala dimensi dan kemasannya.
Fikiran dibalik fikiran yang diinformasikan Allah swt di dalam al-quran ini, secara esensial adalah sebuah antisipasi dari perangkap prakmatisme, saat ketika dihadapkan pada sebuah goncangan kehidupan dengan segala macam warna dan arenanya yang sangat kontaminatif. Allah SWT sebenarnya ingin agar kita berhati-hati di dalam subhat kontaminasi pertarungan antara kehendak nafsu dan nurani, agar mampu bertahan ditengah badai subhat pertarungan “al-fujur wa taqwa” dalam kehidupan kita. Betapa Allah SWT sangat mewanti-wantikan itu, sehingga menggandeng kata al-fujur (kejelekan) dengan kata at-takwa yang mengandung makna sangat dalam yaitu; takut yang hanya kepada Allah SWT. Disinilah pentingnya untuk sampai kepada akar pemahaman yang konprehensif utuk mewujudkan kematangan tarbawi yang di cita-citakan, sebagai prisai diri dari kegala godaan kepentingan yang menyala kobarkan nafsu sehingga menelungkupkan nurani.
Prakmatis adalah sebuah keniscayaan karena tidak ada satupun hal yang tercipta dalam ruang yang hampa, semua berangkat dari latar belakang dan tujuannya, seperti orang yang makan karena lapar, minum karena haus. akan tetapi alangkah hinanya bila karena kepentingan semu menggadaikan kometmen diri, lalu membias lepas kendali, hingga begitu tega mengorbankan orang lain, dengan menjadikannya sebagai aset dalam pandangan degil proyektif prakmatis, karena telah dibutakan oleh tuntutan-tuntutan kepentingannya, walaupun kemudian memberi sedikit keuntungan bagi yang dilibatkan, sementara dengan polosnya orang yang dilibatkan (dikorbankan) itu barsenandung lirih dalam ketidak berdayaannya, “dari pada.. kan lebih baik..!”. secara sederhana begitulah cara kerja politk prakmatis; “siapa yang mememfaatkan siapa”, Kata para penganutnya, dengan bangga.
Banyak hal yang telah atau sedang dilakukan tampa disadari sepenuhnya karena tidak difahami denga benar dan baik, semakin jauh semakin melenakan semakin menina bobokan, itulah surgenya perakmatisme dalam arena politik yang sedang dinikmati, dan itu pulalah ancamannya, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi labih jauh berbahaya lagi mengancam eksistensi afiliasi dan karismatik sebuah organisasinya. Yang ditakuti sebenarnya adalah apa yang telah Rasulullah SAW memprediksikan ”akan datang suatu hari dimana ummatku ini seperti buih di lautan, terombang ambing arah mata angin, sahabat bertanya; apakah ketika itu jumlah kami sedikit wahai Rasul?, tidak, kata Rasul. bahkan jumlah kalian saat itu jauh lebih banyak dari yang sekarang ada, akan tetapi kalian tidak lagi punya izzah..”. itu akan sangat mungkin terjadi dan berlaku dalam jama’ah ini, ketika secara personal ditunggangi oleh kepentinga-kepentingan politiknya masing-masing walaupun tidak sepenuhnya, tetapi dampaknya akan berlaku jeneral hingga ke akar-akarnya. Akan terjadi perpecahan, kecemburuan sosial Karena tidak adanya transfaransi sepenuh hati, lalu pertanyaannya, apa yang kita fahami dengan kata “ibadah” yang oleh Allah dan Rasul-Nya sangat dianjurkan untuk dilakukan sepenuh hati, bukankah kita selalu memproklamirkan bahwa “inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi Rabbil ‘alamien”.
Ikhwah fillah, kepadaku sepenuhnya dan kepada yang sudi intropeksi, aku sematkan wasiat ini jauh kedasar hati, bahwa; “bergembiralah kalian dan berharaplah kalianpada sesuatu yang menyenangkan kalian. demi Allah aku tidak mengkhawatirkan kemiskinan menimpa kalian, tetatapi yang aku khawatirkan terhadap kalian adalah bila dunia dibentangkan kepada kalian seperti yang dibentangkan kepada ummat sebelum kalia, lalu kalian berebut seperti mereka dulu berebut sehingga kalian binasa seperti merka dulu binasa.”(qitab sunan Ibnu Majah HD No 3997,3987). Allahua’lam Bissawaf.
Diposting oleh
sanggelombang
di
07.35
0
komentar
Label: artikel
PEMUDA DAN PESTA DEMOKRASI PEMILU 2009*
Aku tak bisa untuk tak peduli, Hati ini tersiksa,
Aku bersumpah, Untuk berbuat yang aku bisa
Harus ada yang dikerjakan, Agar kehidupan berjalan wajar
Hidup hanya sekali, Uku tak mau hidup dalam keraguan
(Iwan fals – 15 Juni 1996)
Momentum penting kebangsaan, yakni pemilihan umum (pemilu), kian hari kian dekat hadir ditengeh-ditengah kita. Dalam penantian harap-harap cemas ditengah janji-janji politik mengumbar prestasi mengharap simpati lewat iklan-iklan suksesi politik klaim bukti, kelabui masyarakat. Kaum muda indoneaia harus menjadi faktor penentu bukan pelengkap penderita dalam momentum itu, kita harus menjadi bagian solusi bagi permasalahan bangsa. itulah peran utama kaum muda dari agama apapun atau organisasi apapun mereka berasal.
Sebaliknya kalau kaum muda justur menjadi bagian dari masalah atau Cuma pelengkap penderita dan penyerta, maka bukan lagi berjiwa pemuda tapi sedah tergolong genersi yang harus pensiun. Tinggal menunggu malaikat maut memanggil kehadapan Tuhan, karena pemuda identek dengan perubahan dan bila kata pemuda disandingkan dengan kata perubahan maka inter pretasinya bukan lagi usia sebagai parameternya tapi semengat remormasi pemuda sebagai agen of change, agen of conrol dan agen of reformasi. Oleh karena itu Ali bin abi thalib berkata, himmaturrizal tahrikul jibal: semangat para pemuda dapat menggoncang dan merontokkan gunung. Karena, izda kanati nnufusu kibaran muradhihal ajsam: apabila semangat itu telah berkobar maka jasad tidakkan pernah mampu melayaninya. Pertanyaanya, selama ini jasad kita dicapekkan oleh hal-hal apa, bagaimana dan untuk apa?
Kita kaum muda, semua sudah pernah merasakan bagaimana perjalanan kepemimpinan bangsa selama masa transisi. Kita telah menghitung sisi positif dan negatifnya, kita juga mengetahui kemunduran dan kemajuan bahkan stagnasi yang terjadi. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh pemimpinnya. Tapi jangan lupa, munculnya seorang pemimpin juga sangat terkait dengan kualitas bangsa secara keseluruhan.
Bangsa yang berjiwa besar dan bertekad untuk terus maju, mustahil melahirkan pemimpin yang berjiwa kerdil dan berorientasi jangka pendek. Bangsa yang ingin mewujutkan cita-cita yang digariskan para founding father (pendiri bangsa), maka akan memilih pemimpin yang mampu merealisasikan tekad luhur itu.
Sebaliknya bangsa yang pemalas dan tak produktif, dan orientasinya pada pencarian kekuasaan yang egoistic, maka mustahil akan memilih pemimpin yang suka bekerja keras dan mendahulukan kepentingan rakyat demi demi tercapainya kemajuan bersama. Bangsa yang menjunjung agenda reformasi demi terwujudnya Negara yang makmur dan bersatu, yang berdaulat dan berwibawa dimata bangsa lain, pasti mereka akan memilih sosok pemimpin yang mampu memenuhi harapan itu.
Itulah kaedah umum yang berlaku dalam sejarah politik tentang lahirnya sebuah kepemimpinan nasional yang mengakar. UUD 1945 yang telah diamandemen menyatakan kedaulatan diserahkan seoenuhnya kepada rakyat. Kita semua memiliki hak yang setinggi-tingginya untuk menentukan corak pemimpin masa depan.
Oleh karena itu, agar kita memperoleh pemimpin yang baik, mau tidak mau kita harus menentukan: posisi apa yang kita ambil?. Bila kita memang anak bangsa yang dikenal malas dan hanya memikirkan dirinya sendiri larut dalam hedonisme kehidupan, maka sikap yang lahir adalah acuh tak acuh, dan cenderung jadi tukang kritik, atau bahkan kita akan memilih pemimpin yang malas. Tidak ada anak bangsa yang pemalas yang mau memilih pemimpin yang rajin, kapabil dan berdisipplin, karena merasa akan kena sangsi sifat hedonisnya, tapi alangkah tragisnya dampak buruk yang akan menimpa masyarakat yang jadi korban politik para gerombolan prakmatisme.
Pemilu yang akan dating ini merupakan momentum yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas diri kita sebagai anak bangsa, menyelamatkan nasib masyarakat, ekonomi dan pendidikannya. putra daerah yang tahu betul nasib prekonomian masyarakatnya, tahu betul pekerjaan orang tua mereka dan tahu betul nasib pendidikannya dan tahu betul bagaimana putra daerah yang kaya sumber daya alamnya, mengundi nasib menuntut ilmu nyambi jadi marbot masjid, pelayan toko dan restoran, jualan, dan lain-lain. Seberapa keras hati kita bila tidak tersentuh dengan fonomena itu. Pemilu akan datang ini disamping menjadi faktor pendidikan politik yang sangat krusial dan urgen sekali juga menjadi penentu nasib bangsa untuk menjadi lebih baik atau makin terpuruk, kita kaum muda lebih bertanggung jawab membaca dan memfirasati kemunggkina-kemungkinan itu untuk mengarahkannya sebelum nasi menjadi bubur, Sebab tidak ada jaminan kita akan bertemu dengan pemilu lima tahun yang akan datang.
Intensitas pengawalan dalam perjuangan sepenuh hati kaum muda khususnya sangat ditutut di tengah-tengah masyarakat yang dibingungkan oleh kontaminasi para calon pemimpin dengan berbagai janji politik. Pemilu yang jujur dan adil kita perlukan, agar kita bisa membayangkan daerah kita, masyrakat kita, orang tua kita dan adik-adik kita dimasa datag hidup dalam keadilan sosial dan kesejahteraan. Hal itu, suka atau tidak suka, sangat dipengaruhi oleh kualitas kepemimpinan kita, pemimpin yang berkualitas dan peduli terhadap nasib rakyat serta generasi mas datangakan menciptakan bangsa yang makmur, dal dan sejahtera, damai dan tentram.
Semestinya kita semua menyambut kesempatan yang baik dalam pemilu untuk mengoreksi faktor negative yang terjadi selama ini sebagai sebab terjadinya krisis yang menjerat masyarakat miskin kepulauan. Kita melihat beberapa partai diprotes dan didemonstrasi oleh anggota dan kadernya sendiri, kita melihat beberapa partai terpecah dan mengalami konflik ataupun folemik inernal yang berkepanjangan. Apapun alasannya,subyaktifitas soliditas internal, merekomendasikan obyaktifitas-soliditas ekternal secara orientataif dalam mengelola hubungan secara horizontal yang lebih luas dan fertikal yang lebih profesianal.
*usman adhim
Diposting oleh
sanggelombang
di
07.34
0
komentar
Label: artikel
MENCARI PEMIMPIN PERUBAHAN SAPEKAN*
By, el-hezhna
“History is biographi of the great men” (sejarah hanyalah mencatat riwayat hidup orang-orang yang hebat), kata salah seorang sejarawan dari barat. Pernyataan ini bisa saja benar atau mungkin tidak benar, orang-orang hebat memang menjadi simbul dan konseptor perubahan sejarah, akantetapi mereka tidak sendirian, ada kelas-kelas sosial yang lain yang berjuang bersama mereka mengkontruksi dan merekontruksi sejarah. Orang-orang hebat itu tidak akan pernah terlahir menjadi besar dan mencuak namanya kepermukaan peradaban tampa ada gerakan kolektifitas (kelompok) yang mengikutinya dan mendukungnya selalu, begitulah prosesnya.
Kelas-kelas sosial itu adalah tiga elemen (lapiasan) yang terdapat dalam masyarakat, pertama lapisan pemudanya, kedua lapisan pemimpinnya (orang-orang yang ditokohkan), yang ketiga adalah masyarakat biasa yang tidak tergolong dari dua lapisan masyarakat diatas. Lapisan pemuda dan lapisan pemimpin inilah yang harus lebih faham dan sadar pada esensi kebenaran yang diperjuangkan untuk kesejahteraan dan kemaslahatan barsama, lalu berusaha menyadarkan masyarakat (lapisan ketiga) dan mengawal suara keberpihakan mereka, agar tidak menjadi korban kepentingan-kepentingan kecil yang diucapkan dengan kata-kata yang besar.
Memperhatikan rekam jejak langkah para tokoh-tokoh perubahan itu, maka ada dua jalan muara keterlahirannya; pertma, ada para tokoh yang lahir dan besar menjadi tokoh karena nama besar para pendahulunya, bapaknya, kakeknya, atau silsilah keturunannya yang lain, tokoh ini mewarisi kebesaran dari karismatik tokoh-tokoh silsilah keturunannya. Yang ke dua adalah; mereka para tokoh yang lahir dan besar menjadi tokoh karena prestasi, gerak, dan fikiran-fikirnya yang selalu risau untuk perubahan. Akan tetapi ada juga tokoh seperti Ken Arok yang mertas jalan makar untuk menjadi orang yang besar dan menjadi tokoh no satu. Diabat modern ini, orang seperti Ken Arok bukan mustahil ada ditengah-tengah kita, tetapi dengan cara dan kemasan yang modern pula, maka telusuri dan pelajarilah rekam jejak setiap langkahnya, karena akan menjadi benalu yang membelenggu rakyatnya dalam kungkungan ketergantungan dan keterbelakangan.
Nah, di mumentum pemillihan kepala desa (PILKADES) kita kali ini, maka pelajarilah para tokoh-tokoh yang akan mengawal perubahan di pulah sapeken tercinta ini. Siapa diantara mereka termsuk contoh pertama dan kedua. Lalu pegang teguhlah contoh tokoh yang kedua dengan penuh keyakinan yang mengakar kehati, menghunjam dahsyat.
Contoh tokoh kedua diatas adalah, tokoh yang besar karena prestasinya, komentmannya, kepedulian dan keberpihakannya kepada masyarakat kecil yang sudah menjaadi karekter kepribadianya, karena tokoh ini tumbuh dan besar bersama mereka orang-orang kecil dan keadanan ditengah-tengah masyrakat kecil itu telah mendidik dan menkonstruk kepribadiannya hingga besar bersama mereka dan berdaya upaya untuk kesejahteraan mereka (masyarakat kecil).
` pelajarilah sejarah hidup tokoh-tokoh itu secara seksama, lalu pegang teguhlah contoh tokoh yang kedua diatas, bila tidak, maka kesalahan dibilik suara PILKADES nanti, akan membuat satu sampai enam tahun kedepan( tahun 2008-2014) menjadi sia-sia belaka.
*Disarikan dari buku yang berjudul "melampaui demokrasi" karya Pak Subchan
Diposting oleh
sanggelombang
di
07.31
0
komentar
Label: artikel
MA’AF ATAU SEKEDAR AF1
Oleh : el-hezhna
Sebuah renungan sebagai intropeksi diri, semoga menjadi lebih baik dalam amal ibadah dakwah yang hanya karena Allah SWT yang merajai segala hati.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman lalu kafir, kemudian beriman lagi, kemudian kafir lagi, lalu bertambah kekafirannya, maka Allah tidak akan mengampuni mereka dan tidak pula menunjukka kepada mereka jalan yang lurus.
(QS. An-Nisya: 137)
Kata-kata af1 kerap kita dengar menghiasi bibir ketika hilaf dalam perbuatan atau perkataan dalam pergaulan sehari-hari, bahkan cukup akrab ditelinga dan femiliar mewarnai kelalaian yang entah disengaja atau tidak. Af1 ketiduran, af1 lupa, af1 tidak sengaja, dan segala macam karya af1 af1 yang lain.
Kata af1 ini memang kecil dan teramat sederhana, enteng sekali diucapkan, seenteng dan semudah melalaikan esensinya. Entah disadari atau tidak disadari, difahi ataupun tidak difahami, pelontaran kata af1 ini telah membudaya dalam pergaulan sehari-hari, sebentuk kulturisasi istilah-istilah baru yang disebut bahasa slenk dalam ucapan-ucapan basa-basi atau tegur sapa yang telah mengakar ditengah-tengah remaja atau pemuda dan pemudi masa kini, seperti ucapan “dengkulmu”, “capek dech”, “buseet”, dan lain sebagainya.
Bukan maksut membesar-besarkan permasalahan yang kecil atau biar dibilang keritis, sok pekka pada permasalahan sosial. Bukankah kita terbangun dari permasalahan yang terkecil yang secara berlahan manjadi besar?!. Seperti yang disinyalir oleh Ustadz Agiem Nastiar, dengan rumus tiga M, yaitu; mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil, dan mulai saat sekarang. dan ulama syalaf juga berkata, dosa kecil yang dibiarkan berulang-ulang menumpuk akan menjadi dosa yang besar. Lihatlah sampah di halaman rumah yang dibiarkan kian hari kian bertambah, menumpuk kian banyak, jadilah ia unggukan sampah yang membukit, susah dibendung karena dibiarkan berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Begitulah hati yang merajai jasmani dan rohani bila dibiarkan dan dibiasakan dengan kelalaian-kelalaian yang kecil, dari satu kelalian yang bersifat horisontal hingga beralih kepada kelalaian yang bersifat fertikal, setitik demi setiti lama kelamaan hati menjadi kelam hingga diri menjadi buta pada kesalahannya sendiri karena diri telah kebal dan hati telah kelam.
Kulturisasi af1 adalah penyederhanaan masalah yang kurang baik untuk digandrungi dan dibudayakan pada kader, apalagi jika tidak dibarengi dengan pemahaman yang mendasar dan mengakar secara ilmiah. Sehingga akan selalu diulang dan diulangi dalam banyak kesempatan dan pergaulan.
Af1 adalah kata yang berasal dari bahasa arab,yaitu ‘afwan shigot atau bentuk isim masdar, dari akar kata ‘afaa, ya’fuu, ‘afwan. yang berarti permohonan ma’af. Satu akar makna dengan kata istagfara, yastagfiru, yanitu kata yang digunakan untuk meminta ma’af atau maminta ampun ketika sadar telah melakukan suatu kesalahan. perbedaan dari keduanya adalah kata istigfar lebih digunakan kapada Allah SWT untuk bertobat. Akan tetapi nilai subtabsi yang terkandung didalamnya sama, yaitu: kesadaran peda kesalahan yang telah dilakukan sehingga harus bertaubat dengan sungguh-sungguh dan berhati-hati untuk tudak mengulanginya kembali (ath-thaubah an-nasuha).
Terkadang kata afwan juga diartikan sehat artinya; bersih dari segala penyakit. dalam hal ini sebenarnya antara meminta ma’af dan meminta kesehatan secara termenologi bahasa adalah sama, artinya sama-sama mengandung makna lepas dari segala hal yang telah mengotori jasmani dan rohani. Seperti dalam salah satu do’a dalam sholat ketika duduk diantara dua sujud yaiti; “rabbigfirli……..wa‘aafini..….”. Adapun ketepatan maknanya secara etimologi, tergantung pada konteks kalimat apa dan bagaimana kata afwan itu diletakkan.
Setelah dapat memahami esensi afwan, maka sebisa mumngkin untuk tidak meremehkan dalam mengucapkannya. Satu af1, dua af1, tiga af1, memang wajar untuk ditolerir, sebagai manusia yang tak lepas dari salah dan lupa, dan syari’at juga membatasinya seperti itu. tapi bila terlalu sering apakah itu masih dalam katagori kelalian yang patut ditolerir?!. “Cukup satu kali kehilangan tongkat jangan sampai terulang keduakali”, kata Bang Roma, dalam penggalan sair salah atu albumnya..:-).
Kalo dicermati secara seksama, konsekwensi af1 ini dalam kinerja dakwah secara kolektif cukup berpengaruh karena dakwah adalah amal jama’i yang bersifat syumuli. Syumuliatul amal jama’iyah yang dimaksut adalah perpaduan kerja hati dan fikiran yang menggerakkan jasmani dan rohani. Sehingga ketika ada kesalahan yang mengakibatkan kegagalan, rasionalisasinya kembali pada diri sendiri bukan kepada orang lain dan sandarannya adalah Allah SWT. Maka intropeksinya juga benar-benar bersifat nafsiah secara kolektif yang dilatar belakangi oleh kesadaran tarbawi yang hakiki.
Bila demikian yang terjadi, yakinlah segala amanah da’wah akan dikerjakan dengan senang hati dan terselesaikan dengan baik. Kerena dikerjakan dengan semangat Al-fahmu yang mendasar dan mengakar , sebagai frem afiliasi yang kokoh. Setelah itu tidak akan ada lagi kata-kata af1 imitasi yang diumbar tampa risih. Itulah sebabnya Allah SWT berfirman dalam Al-qur’an: “falamma balaga asyiddahu atainahu ‘ilman wa hikman”.
Allu a’lam bissawaf.
Diposting oleh
sanggelombang
di
07.26
0
komentar
Label: artikel
Rabu, 10 Juni 2009
REBUTAN KEKUASAAN
Hidup kadang kala di atas dan kadang pula di bawah, dan semua itu adalah dinamika kehidupan yang sudah Allah swt atur dan merupakan scenario Tuhan Yang Maha Mengetahui. Manusia hanya bisa mengabdi dan meminta akan pertolongan Allah swt. Roda kehidupan akan selalu berputar sesuai dengan kehendak-Nya, dan Dia Allah telah menciptakan segalanya selalu berpasang-pasangan sebagai tanda akan kekuasaan Allah swt. Kadang-kadang manusia dibutakan mata hatinya untuk tidak memikirkan akan ciptaan Allah, baik yang tersirat maupun yang tersurat, bahkan nasib kita sudah Allah tentukan sebelumnya. Hidup memang misterius….of….problem.
“Dunia panggung sandiwara”. Kekuasaan kadang menjadi rebutan orang, tidak mesti di dunia politik yang notabenenya memang mengejar kekuasaan belaka, tetapi juga tentunya dalam ranah domestic, organisasi, pendidikan, dan bahkan dalam dunia binatang sekalipun, perebutan kekuasaan itu menjadi alternative utama untuk mengantur dan memanfaatkan orang atas nama kekuasaan.
Dalam ranah domestic, seorang suami misalnya semestinya menjadi pemimpin dalam rumah tangga kadang pula menjadi pembantu isteri, karena penghasilan isteri jauh lebih banyak dari pada suami, atau suaminya duduk manis di rumah, akhirnya jadi “suami-suami takut isteri” dan kekuasaan itu ada di tangan isteri. Dalam dunia pendidikan misalnya banyak kita lihat khususnya di perguruan tinggi, orang banyak mengejar jabatan dan kedudukan, entah itu menjadi rektor, pembantu rektor, dekan, pembantu dekan, ketua jurusan, sekrataris jurusan, dan kepala unit, dengan berbagai macam lobi dilakukan untuk meraih jabatan tersebut, kadang pula menghalalkan segala cara untuk mencapai kekuasaan. Ironis memang kalau dunia pendidikan dijadikan sebagai perebutan kekuasaan sesaat dengan meminta jatah kursi hanya satu periode dan seterusnya, tatkala menjadi memimpin maka kadang dia menjadi raja, rakyat harus tunduk pada ujung jarinya, dan bahkan menjadi serakah akan kekuasaan itu. Kalau demikian halnya maka potret dunia pendidikan akan menjadi buram baik bagi peserta didik, maupun bagi guru/dosen serta masyarakat, akhirnya mahasiswa melakukan demonstrasi menuntut bapak/ibu harus mundur dari jabatannya sebagai………dan seterusnya.
Perebutan kekuasaan itu tak perlu lagi, jadilah manusia yang santun, pemain yang bijaksana, gunakan politik santun, agar semua menjadi harmoni, jangan fitnah orang, dan jangan ancam orang, pula jangan benci orang karena dia tidak memilih kita, dan yang terpenting jangan provokasi orang untuk memilih. Budaya seperti itu adalah budaya penakut yang takut kalah. Tapi kadang pula kita menyadari bahwa setiap manusia memiliki naluri dan mental yang berbeda-beda, dan perberdaan itulah kadang membawa malapetaka dan kadang pula mendatangkan rahmah, tergantung pada kita untuk menentukan pilihan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi al-Showab.
Diposting oleh
sanggelombang
di
09.50
0
komentar
Label: artikel


